Dahsyatnya Lahar Dingin Merapi di Magelang

Dampak lahar dingin terlihat dari dalam bus

Tanggal  23 Januari 2011 lalu, saya naik bus umum dari Yogyakarta ke Magelang. Di daerah Salam, tepatnya di Dusun Gempol, Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, bus tiba-tiba berhenti dan terjebak kemacetan selama beberapa jam.

Penyebabnya adalah badan jalan raya Magelang-Yogyakarta tersebut tergerus banjir lahar dingin di Kali Putih selebar 7 meter dengan panjang 35 meter dan kedalaman 4 meter pada hari Kamis, tanggal 20 Januari 2011.

Arus lahar dingin Merapi (id.ibtimes.com)

Badan jalan yang semula lebarnya 15 meter dan bisa dilalui empat lajur itu kini hanya bisa dilalui dua lajur. Mau tak mau kendaraan harus mengantri satu persatu.

Dari dalam bus saya baru menyadari bahwa banjir lahar dingin itu bukanlah banjir biasa.

Dalam bayangan saya sebelumnya, setelah  Merapi tenang dan awan panas sudah tak ada lagi, maka banjir lahar dingin merupakan penutup dari semua musibah gunung Merapi dan dampaknya tidak akan begitu membahayakan.

Tetapi setelah melihat langsung, pandangan saya berubah 180 derajat. Banjir yang menggulung dari puncak Merapi tersebut kemudian menerjang Dusun Gempol ternyata banjir yang cukup dahsyat. Banjir itu bukan hanya membawa lahar, tapi juga batu-batu berukuran raksasa.

Dampak lahar dingin terlihat dari udara (ANTARA/Anis Efizudin)

Material vulkanik yang memadat menyumbat sungai, menyebabkan aliran lahar dan air berbelok ke kebun dan kampung. Pepohonan yang diterjang banjir langsung meranggas, rumah-rumah warga tenggelam dalam timbunan lumpur dan pasir, bahkan kendaraan bus dan truk yang sedang melintas pun bisa langsung terendam dalam pasir dan bantu dalam banjir tersebut.

Dampak dari lahar banjir lahar dingin ini mengharuskan sekitar ribuan warga dari 10 desa mengungsi di lapangan desa. Banyak diantara mereka yang mulai kehabisan bekal, mereka terpaksa berhutang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena harta benda mereka telah hilang diterjang banjir lahar dingin.

Batu yang ikut digelontorkan arus banjir (ANTARA/Anis Efizudin)

Rumah penduduk yang tenggelam (ANTARA/Anis Efizudin)

Mobil terseret lahar (ANTARA/Anis Efizudin)

Pengungsi lahar dingin Merapi (ANTARA/Anis Efizudin)

Beberapa hal mendesak

Penanganan pengungsi adalah masalah yang harus dilakukan secara serius. Hingga saat ini jumlah pengungsi mencapai 4.187 jiwa. Mereka tentu membutuhkan berbagai kebutuhan yang sangat mendesak terutama yang berkaitan dengan kebutuhan makanan, pakaian dan tempat tinggal. Yang tak kalah penting adalah menumbuhkan motivasi dan menyembuhkan trauma atas musibah yang menimpa mereka. Pendidikan anak-anak pengungsi yang sebentar lagi akan menempuh ujian sekolah juga harus mendapatan perhatian khusus.

Hal lain yang mendesak adalah melokalisir dan meminimalisir agar dampak banjir lahar dingin ini tidak meluas. Dalam rangka ini, pemerintah merencanakan akan segera membangun 49 dinding beton ditanam dengan kedalaman 6 meter. Setiap dinding beton dengan ketebalan 40 sentimeter, lebar 1 meter, dan tinggi 12 meter.

Sarana jalan juga merupakan hal yang membutuhkan perhatian serius. Jalan Yogyakarta – Magelang termasuk jalan utama yang sangat penting. Jika sewaktu-waktu jalan utama tersebut terputus, maka jalan alternatif perlu dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Beberapa  jalan alternatif yang telah disiapkan adalah melalui Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, kemudian Kecamatan Borobudur, Magelang.

Untuk kendaraan kecil, jalur alternatifnya melalui Kecamatan Srumbung. Tetapi, jalur itu hanya digunakan pada siang hari, sedangkan pada malam hari ditutup karena khawatir tiba-tiba terjadi banjir lahar dingin susulan. Untuk jenis kendaraan truk dan kendaraan besar lainnya, jalan alternatifnya bisa mengambil jalur melalui Kabupaten Purworejo.

Ujian bagi perikemanusiaan kita

Setiap kali terjadi musibah sesungguhnya merupakan ujian bagi perikemanusiaan kita. Apakah kita termasuk orang yang langsung tanggap terhadap derita yang menimpa saudara kita tersebut ?

Kalau toh kita tidak bisa membantu mereka secara langsung, maka empati, simpati dan doa merupakan sesuatu yang sangat baik kita lakukan untuk mereka.

Mudah-mudahan kita semua bukan termasuk orang yang cuek terhadap berbagai musibah yang menimpa saudara kita, bahkan menganggap bahwa musibah tersebut layak untuk ditimpakan kepada mereka karena selama ini mereka bergelimang dosa dan menganggap diri kita adalah manusia suci yang akan selalu terhindar dari berbagai musibah.

Bahan introspeksi

Akhir-akhir ini berbagai bencana alam, entah itu banjir, gunung meletus, gempa, tsunami, tanah longsor dan lain sebagainya sepertinya bertubi-tubi menimpa berbagai wilayah di negara kita. Fenomena apakah gerangan semua itu ? Mengapa alam semakin tak bersahabat dengan kita ? Adakah sesuatu yang salah pada diri kita dalam memperlakukan alam ?

Alih-alih menjaga dan memeliharanya,  selama ini kita mungkin malah lebih banyak menelantarkan dan mengekploitasinya habis-habisan.  Kalau sesekali menunjukkan kemurkaannya, ya kita jangan hanya menyalahkan alam. Siapa tahu malah justru kita yang punya banyak andil atas kesalahan itu.

Marilah kita semua berintrospeksi !

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: