Sate Padang, Lain daripada yang Lain

Sewaktu berdinas di Sungai Penuh, Jambi, tahun 2003 dulu, seorang mitra kerja mengajak saya makan siang di rumah makan Sate Amir. Rumah makan yang menyediakan menu sate Padang tersebut sangat terkenal di kota yang terletak di kaki gunung Kerinci. Usaha tersebut sudah dijalankan selama berpuluh-puluh tahun dan pengelolanya sudah berganti generasi.

Siang itu, kami sengaja berjalan kaki dari hotel tempat kami menginap ke rumah makan tersebut, kebetulan letaknya juga tidak terlalu jauh, sekaligus untuk mengistirahatkan dan mendinginkan mobil dinas Daihatsu Taruna yang sudah dikendarai selama beberapa hari tanpa henti di medan yang cukup berat.

Melihat jumlah pengunjung yang cukup banyak, saya yakin menu makanan dan minuman yang disajikan di rumah makan tersebut pasti lezat dan istimewa. Kalau tidak, mana mungkin mereka rela antri dan berdesak-desakkan hanya untuk bersantap siang. Apalagi jika melihat cara mereka menyantap sate yang telah terhidang di meja makan. Saya jadi tak sabar menunggunya.

Ketika pelayan mengantar seporsi sate Padang  ke meja saya, saya langsung menyambarnya. Saya ambil satu tusuk dan cepat-cepat saya masukkan ke mulut, ups ternyata lidah saya merasa aneh dengan kuliner tersebut. Untuk yang pertama kali ini saya menyerah. Hanya tiga tusuk sate yang bisa masuk ke perut saya, sisanya saya biarkan di piring.

Sebenarnya saya tidak tega menyisakan makanan seperti itu, apalagi kali ini saya dalam posisi dijamu. Pada saat itu juga saya langsung meminta maaf kepada teman saya tersebut dan alhamdulillah dia memahaminya.

Dalam bayangan saya sebelumnya, rasa sate Padang tentu tidak akan jauh berbeda dengan sate-sate lainnya yang pernah saya cicipi, seperti yang biasa disajikan pada sate Madura, Tegal, Maranggi atau Ponorogo. Bumbu kecap atau bumbu kacang yang manis pasti akan menemani sajian sate tersebut. Tetapi sate Padang ternyata lain daripada yang lain. Satenya dilumuri dengan bumbu berwarna kuning yang rasanya asin dan pedas dengan aroma rempah yang cukup kuat.

Kejadian seperti itu terjadi beberapa kali.  Setiap kali diajak mampir ke rumah makan sate Padang, biasanya saya hanya memesan minuman ketika teman-teman dengan asyiknya melahap sate. Kadang-kadang saya mengambil satu atau dua tusuk dari piring mereka.
Eh lama-lama ternyata lidah saya bisa beradaptasi, dari dua tusuk menjadi lima, akhirnya 1 porsi bisa habis. Witing tresno jalaran seko kulino, adanya rasa suka itu karena biasa, begitu kata pepatah Jawa.

***

Kini, setelah tinggal di Depok , saya tetap bisa menikmati lezatnya sate Padang, tentu bukan sate Amir seperti di Sungai Penuh dulu. Tetapi sate Padang Mak Bidin yang dijual didekat rumah saya. Paling tidak seminggu sekali saya selalu memesan sate tersebut.

Sate yang  berbahan baku daging, lidah dan jerohan sapi dengan kuah kental berwarna kuning ini, sangat cocok dinikmati sehabis pulang kantor. Mak Bidin biasanya membuka warungnya setelah maghrib, jam 11.00 malam biasanya sudah habis.

Mak Bidin menjajakan satenya dengan gerobak. Cara memasak dan menghidangkan sate Padang di tempat tersebut saya kira juga tidak jauh dengan cara yang biasa dilakukan di tempat asalnya.

Sate yang telah dimasak setengah matang dan dibumbuhi siap dibakar

Sate siap dibakar

Tusukan sate yang siap dibakar dijejer di gerobak Mak Bidin. Sate tersebut bukan daging mentah, tetapi sudah dimasak dengan bumbu lengkap, yang jenisnya bisa lebih dari 15 jenis, antara lain   bawang putih, bawang merah, jahe, lengkuas, cabe merah, lada,kemir, jinten, adas manis, ketumbar, kapulaga putih, cengkeh, bunga peka (lawang), kayu manis, asam kandis, kunyit, dan kacang goreng.

Sate dibakar dengan arang kelapa

Sate dibakar dengan arang kelapa

Untuk membakar sate, Mak Bidin menggunakan arang kelapa. Arang kelapa ini disamping panasnya cukup bagus juga aromanya menambah lezat masakan.

Bumbu sate padang, gurih dan pedas

Bumbu sate padang, gurih dan pedas

Untuk kuahnya, bahan bakunya adalah tepung beras dan tepung kanji. Bumbu tersebut disiapkan dalam sebuah panci khusus. rasanya asin, gurih dan pedas dengan aroma rempah yang cukup menggoda.

Mak Bidin , penjual sate padang yang cekatan dan ramah

Mak Bidin

Mak Bidin, sebagaimana penjual makanan Padang pada umumnya,  sangat cekatan menyiapkan hidangan sate. Dia juga sangat ramah melayani pelanggan. Dia sadar pelanggan lah yang menghidupi warung sate Padangnya.

Sate siap disantap

Sate siap disantap

Sate yang sudah dibakar, kemudian dilumuri kuah dan ditaburi bawang goreng. Sangat lezat disantap saat malam hari di musim penghujan seperti sekarang ini.

Secara pribadi, saya masih penasaran dengan sate Padang Amir di Sungai Penuh di atas. Kalau ada kesempatan kesana, saya yakin sekarang saya akan habis melahapnya. Tidak hanya satu porsi, insyaallah saya malah akan nambah!

Iklan

2 Tanggapan so far »

  1. 1

    penastuti said,

    Kelihatannya enak sekali ya Pak. Cocok banget tuh untuk musim hujan kayak sekarang ini…


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: