Sepotong Surga di Bumi Papua

Papua.jpg

Berpose di Bukit MacArthur Sentani Jayapura (Dokpri)

Ketika gambar di atas saya unggah ke Facebook, teman-teman langsung membanjiri komentar di wall Facebook saya. Banyak yang yang mengatakan bahwa lokasinya sangat indah, keren, luar biasa, apik tenan, subhanallah, sip, very beautiful dan lain sebagainya. Intinya, semua komentar mengagumi gambar tersebut.

Bagi saya sendiri,  di antara berbagai tempat yang pernah saya kunjungi, tempat ini adalah termasuk tempat yang paling indah. Sebuah tempat yang teduh dengan pepohonan rindang, gunung-gunung hijau dan air jernih mengalir di bawahnya. Bagai bayangan surga seperti yang digambarkan dalam kitab suci.

papua2

Pepohonan yang teduh, gunung hijau dan air yang jernih (Dokrpi)

Saya sangat senang dengan foto yang diambil oleh  Hans Yambeyabdi, bapak tua yang bekerja di kawasan  MacArthur Memorial atau Tugu MacArthur  yang terletak  Ifar Gunung Sentani, Jayapura . Karena keberadaan tugu tersebut, penduduk lokal sering memanggil tempat tersebut dengan Bukit Makatur.

Kawasan pegunungan yang berada di ketinggian 325 meter di atas permukaan laut ini bisa dijangkau dari Kota Jayapura dalam waktu kurang lebih 45 menit.  Jalannya cukup  menanjak, sempit dan berkelok-kelok. Saat ini wilayah tersebut masuk dalam kawasan Resimen Induk Kodam (Rindam) XVIII Trikora. Untuk bisa masuk, pengunjung harus mendapatkan ijin terlebih dahulu di petugas jaga pos yang berada di pintu masuk.

DANAU3-01.jpeg

Sudut lain pemandangan Bukit MacArthur (Dokpri)

Saat paling indah menikmati pemandangan di tempat tersebut adalah saat hari cerah. Biasanya jatuh pada sekitar jam dua atau tiga siang. Saat pagi hari, biasanya tempat tersebut akan dipenuhi kabut. Foto saya di atas diambil pada pukul 15.10 Waktu Indonesia Timur.

Saat langit cerah, maka dari bukit ini kita bisa melihat panorama yang sangat cantik, paduan antara  kehijauan pegunungan Cyclops dan Danau Sentani tampak membiru. Kita juga akan bisa melihat lalu lalang pesawat yang datang dan pergi di Bandara Sentani. Pesawat-pesawat itu terlihat kecil seperti capung yang beterbangan.

Jejak Jendral Mac Arthur

Sebuah tugu berdiri di atas bukit tersebut, itulah Tugu MacArthur.  Di tugu tersebut tertulis bahwa tempat tersebut merupakan markas besar sebuah pasukan dari negara adidaya. Tulisan lengkapnya adalah sebagai berikut :

“Markas Besar Umum Daerah Pasifik Baratdaya

Pada saat musim panas tahun 1944, suatu hamparan kompleks Markas Besar terserak di tempat ini kemudian didirikan di lokasi ini. Akhirnya berpangkalanlah di Sentani suatu Markas Beasr Umum Daerah Pasifik Baratdaya; Angkatan Darat AmerikaSerikat di Timur Jauh; Angkatan Udara A.S. Kawasan Timur Jauh; Armada Ke-Tujuh; Angkatan Udara Ke-Lima; Angkatan Darat Ke-Enam; Angkatan Darat Ke-Delapan; Pasukan Pendaratan Sekutu. Perencanaan dan Penyelenggaraan untuk penyerangan Pilipina dilaksanakan dari tempat ini di bawah pengarahan Jendral Douglas MacArthur.”

papua5.jpg

Tugu MacArthur yang masih terawat (Dokpri)

Pada tahun 1942, pangkalan militer Amerika Serikat di Filipina digempur oleh tentara Jepang. Pasukan Amerika Serikat di bawah Jendral MacArthur terpaksa mundur dari kawasan tersebut. Peristiwa ini terjadi hanya beberapa jam setelah Jepang menyerang Pearl Habour di Hawaii.

Atas kekalahan tersebut kemudian Jendral MacArthur bersumpah  dengan sumpahnya yang sangat terkenal, “I come through and I shall return”.

Untuk mewujudkan sumpahnya, MacArthur kemudian menjadikan Papua sebagai markas besarnya dan keputusan ini ternyata sangat tepat. Dua tahun kemudian MacArthur berhasil mengusir Jepang dari Solomon dan sebagian daerah Papua Nugini.

Tepat di depan tugu MacArthur tersebut, ada beberapa kursi panjang yang dibuat dari beton, tiga kursi beton di sisi atas dan tiga lagi di sisi bawah. Di dekat tersebut, juga dibangun sebuah gubuk untuk tempat duduk-duduk sambil menikmati indahnya panorama Sentani dari ketinggian.

papua8.jpg

Gubuk dan kursi beton yang sering diduduki oleh Jendral MacArthur (Dokpri)

Kursi beton yang saya duduki itu konon juga sering diduduki oleh Jendral MacArthur saat ia menikmati keindahan alam yang ada di tempat tersebut.

Terbang Menuju Jayapura

Saat ini banyak penerbangan yang bisa kita gunakan untuk terbang ke Jayapura. Dalam sehari, jumlah penerbangan Jakarta Soekarno Hatta (CGK) – Jayapura (DJJ) bisa mencapai lebih dari 40 penerbangan, baik penerbangan langsung, transit satu kali maupun transit dua kali.

Saat saya  ke Jayapura, saya menggunakan pesawat Sriwijaya Air, yang berangkat dari Bandara Soekarno Hatta jam 05.30 dan sampai ke Bandara Sentani Jayapura (DJJ) pada pukul 14.20. Durasi penerbangan adalah selama 6 jam 50 menit dengan transit sekali di Surabaya selama 1 jam 15 menit.

Perjalanan ini adalah perjalanan terpanjang kedua yang pernah saya lakukan, setelah perjalanan ibadah haji ke tanah suci.

*Tulisan juga di-share di Facebook dan Twitter.

Iklan

2 Tanggapan so far »

  1. 1

    Jejak. Terima kasih atas partisipasinya. 🙂


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: