Jangan Ada Lagi Yang Padam

Dua puluh lima tahun lalu, listrik belum menjadi barang yang begitu penting dalam kehidupan warga desa saya di sebuah kampung di Temanggung, Jawa Tengah. Jumlah rumah warga yang dipasang aliran listrik bisa dihitung dengan jari, hanya mereka yang tergolong mampu saja yang sanggup memasang aliran listrik. Bagi orang kebanyakan, listrik masih merupakan barang mewah yang berada di luar jangkauan mereka.

Saat itu penggunaan listrik juga masih terbatas untuk keperluan penerangan rumah dan menyalakan televisi saja. Aktivitas lain lebih banyak dilakukan secara tradisional. Untuk menyeterika baju, ibu-ibu memakai bahan pemanas dari arang, untuk mengambil air di sumur cukup menggunakan timba yang diikat dengan tali dan para menjahit juga menggunakan mesin jahit manual untuk mengerjakan pesanan para pelanggannya.

Jika suatu saat terjadi pemadaman listrik, maka akibatnya tidak begitu terasa. Mereka yang telah memasang listrik di rumah, juga masih menyimpan lampu teplok atau petromax sebagai cadangan jika sewaktu-waktu listrik mati. Hanya kegiatan menonton televisi untuk sementara waktu libur. Saat itu stasiun TV hanya ada satu yaitu TVRI, yang acaranya banyak menayangkan program-program pemerintah dan kadang gambarnya juga ngeblur.

Jaringan listrik tersebar hingga ke pedesaan (Dok pribadi)

Hari ini tentu sudah sangat berbeda, listrik telah menjadi kebutuhan pokok yang wajib ada di setiap rumah, saat ini hampir tidak ada lagi rumah yang tidak dialiri listrik. Berbagai aktivitas akan langsung lumpuh jika aliran listrik mati, baik di kantor, toko, rumah sakit, terminal, stasiun, bandara bahkan di rumah-rumah kita.

Beberapa waktu lalu, listrik di komplek perumahan saya di Depok mati. Saat itu saya sekeluarga hampir tidak bisa melakukan aktivitas apa-apa. Mau mandi dan buang air tidak bisa karena air habis dan mesin air tidak bisa memompa air dari sumur bor. Mau mencuci, memasak nasi, menyeterika baju juga tidak bisa karena semuanya juga mengandalkan listrik sebagai sumber tenaganya. Anak-anak otomatis juga tidak bisa mengerjakan tugas sekolah di laptop. Bahkan mau mengontak teman-teman pun tidak bisa karena baterai ponsel juga habis.

Untung saja pemadaman listrik ini hanya berlangsung beberapa jam saja. Saya tidak bisa membayangkan andaikata hal seperti itu berlangsung beberapa hari. Orang pasti akan berteriak dan memberikan kritikan keras pada kinerja PLN (Perusahaan Listrik Negara).

Kejadian yang kurang mengenakkan berkenaan dengan matinya listrik ini juga pernah saya rasakan pada hari yang lain. Sebagai seorang yang tinggal di Depok dan bekerja di Jakarta, setiap hari saya menggunakan KRL (kereta rel listrik) sebagai moda angkutan untuk pergi pulang kantor.

Suatu sore, saat jam pulang kantor tiba, di stasiun Juanda Jakarta Pusat saya mendengar pengumuman bahwa sore itu KRL tidak bisa berjalan sebagaimana biasanya karena ada satu aliran listrik yang melintas di sepanjang rel kereta api mati karena tertimpa pohon yang tumbang.

Saya melihat ribuan wajah penumpang begitu cemas. Mereka masih berharap bahwa gangguan tersebut akan bisa diatasi secepatnya. Ketika sampai jam delapan malam belum ada tanda-tanda perbaikan, para calon penumpang mulai berpikir untuk mencari kendaraan lain, ada yang menumpang mobil temannya sekantor, ada yang naik bajai, ojek, taksi atau kendaraan umum lainnya.

Malam itu saya memutuskan naik taksi untuk pulang ke rumah, meski harus membayar ongkos Rp 150.000. Padahal biasanya saya hanya cukup membayar Rp 1.500 untuk membeli tiket KRL Ekonomi Jakarta-Depok.

Kita bisa membayangkan berapa banyak pengeluaran ekstra yang harus dibayar oleh para penumpang KRL yang batal tersebut untuk bisa sampai ke rumah mereka. Jumlah pengguna KRL Jakarta-Depok-Bogor setiap harinya diperkirakan mencapai 50 ribu penumpang.

Kejadian lain yang mengakibatkan kerugian cukup besar karena listrik mati juga terjadi di kantor saya beberapa waktu yang lalu. Waktu itu terjadi pemadaman listrik selama 3 jam, biasanya jika terjadi hal semacam itu, genset cadangan di kantor saya langsung hidup, tetapi saat itu genset ternyata tidak bisa menyala. Akibat dari kejadian ini, pendapatan kantor yang biasanya mencapai puluhan juta rupiah menjadi hilang karena matinya listrik tersebut. Dan ini juga dialami oleh banyak kantor atau perusahaan lain yang tidak menyiapkan genset cadangan atau kebetulan gensetnya saat itu rusak. 

Jangan Ada Pemadaman & Edukasi Masyarakat

Dampak yang ditimbulkan dari listrik yang mati memang cukup signifikan. Akibat listrik mati, masyarakat harus membayar biaya ekstra dan menanggung kerugian yang tidak sedikit jumlahnya, seperti pada contoh kasus di atas.

Karena itu, harapan saya kepada PLN yang paling utama adalah jangan ada lagi pemadaman aliran listrik. Untuk sebuah layanan yang sempurna, pemadaman listrik harus bisa ditekan seminimal mungkin bahkan kalau perlu tidak boleh ada lagi toleransi sedikitpun untuk masalah ini. Mengapa ? Karena listrik saat ini telah menjadi kebutuhan masyarakat yang sangat penting melebihi kebutuhan-kebutuhan yang lain.

Listrik menggerakkan ekonomi rakyat, semakin hari semakin dibutuhkan (Dok pribadi)

Memang harus kita akui, banyak faktor yang menyebabkan terjadinya pemadaman ini. Untuk faktor-faktor yang disebabkan oleh kahar mungkin kita bisa memakluminya, tetapi untuk faktor yang secara teknis bisa dikelola dan berada di bawah kendali PLN seharusnya tidak boleh terjadi.

Tidak adanya pemadaman listrik, bagi saya, merupakan salah satu indikator utama bahwa PLN sangat serius mengurusi tugas utamanya. Perusahaan ini merupakan satu-satunya BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang ditugasi untuk mengurusi masalah kelistrikan di seluruh wilayah Indonesia. Jika masih terjadi banyak pemadaman di berbagai, hal itu bisa diartikan bahwa PLN telah gagal melaksanakan tugas utamanya.

Frekuensi terjadinya pemadaman juga dapat dijadikan ukuran untuk menilai bagaimana profesionalitas diterapkan perusahaan. Apakah perusahaan ini telah dikelola dengan benar atau tidak, apakah prinsip tata kelola perusahaan yang baik juga telah dijalankan dengan baik atau sebaliknya dan lain sebagainya. Kita semua tentu ingin PLN dapat memberikan layanan terbaik untuk masyarakat serta dapat memberikan kontribusi yang positif bagi pembangunan secara keseluruhan.

Harapan berikutnya, yang menurut saya juga tak kalah penting, adalah PLN perlu secara terus-menerus melakukan edukasi kepada masyarakat agar bijak dan efisien dalam menggunakan listrik. Edukasi ini bisa dilakukan secara langsung atau melalui media massa atau media sosial semacam blog, Twitter atau Facebook.

Bahwa untuk bisa terus menyala, PLN membutuhkan sumber daya, terutama bahan bakar yang sangat besar, apalagi kebutuhan akan tenaga listrik semakin hari juga semakin meningkat. Selama ini bahan bakar banyak digunakan adalah bahan bakar yang tak terbarukan seperti batubara, gas, minyak bumi atau tenaga panas bumi.

Kita tahu, semakin hari persediaan bahan bakar tersebut semakin menipis dan harganya juga semakin mahal. Jika masyarakat tidak menyadari keadaan ini dan tetap boros menggunakan listrik, suatu saat PLN pasti akan kewalahan dan mengalami kesulitan dalam menyediakan tenaga listrik sesuai dengan permintaan masyarakat.

Kita semua tentu tidak menginginkan hal seperti itu terjadi. Kita ingin Indonesia terus  “menyala” dan tidak kembali ke jaman “kegelapan”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: