Asa Yang Selalu Terpelihara

“Mah, aku mau cari pekerjaan lain saja!” keluh Agus kepada Masita pada suatu malam di rumah kontrakannya yang sempit di Citayam, Depok. Agus selalu memanggil Mah atau mamah pada Masita, istrinya, yang dinikahinya 9 tahun lalu dan telah memberinya dua anak, Ismail dan Hanum.

pos

Pak Pos (Gambar : bsn.go.id)

“Kenapa Mas, memangnya sudah tidak senang menjadi tukang pos?” tanya Masita menyahut.

“Bukan itu Mah, aku senang sekali jadi tukang pos. Tapi kita kan harus realistis. Anak-anak kita terus beranjak besar. Mereka juga butuh biaya sekolah. Sementara statusku masih pegawai kontrak. Sewaktu-waktu bisa diputus,” Agus mencoba memberi penjelasan kepada istrinya.

***

Tahun ini merupakan tahun kesepuluh Agus bekerja di sebuah kantor pos di wilayah  selatan Jakarta. Pekerjaannya adalah sebagai pengantar surat dan paket yang masih berstatus sebagai pegawai kontrak atau populernya disebut sebagai pegawai outsourcing.

Selama beberapa bulan ini, Agus sering terlihat gelisah dengan pekerjaannya tersebut. Penyebab utamanya adalah statusnya sebagai pegawai kontrak. Kini umurnya sudah menginjak 35 tahun. Dia selalu berpikir bahwa kesempatannya untuk bisa diangkat menjadi pegawai  tetap tentu semakin sempit seiring dengan bertambahnya usia.

Agus bukannya tidak berusaha. Sudah tiga kali dia mengikuti tes masuk pegawai tetapi belum juga berhasil. Yang agak menyesakkan dada adalah saat dia mengikuti ujian yang terakhir kali. Dia gagal pada tahapan akhir yaitu pada tahap wawancara, sementara ujian tertulis dan ujian lain sebelumnya dapat dilaluinya dengan baik.

Saat ujian wawancara tersebut, secara fisik dan mental Agus memang tidak siap. Anaknya yang pertama, Ismail, sakit demam sehingga dia harus menemaninya di rumah sakit semalaman. Dia tidak punya waktu yang cukup untuk mempersiapkan ujian tersebut. Rejeki untuk menjadi pegawai tetap nampaknya belum berpihak padanya.

***

Untuk masalah pekerjaan, sebenarnya Agus sangat bangga menjadi pengantar pos. Setiap hari dia bisa berkeliling ibukota dan bertemu banyak orang dengan berbagai karakter. Mereka rata-rata sangat senang setiap kali menerima kiriman pos yang diantarkannya.

Agus juga termasuk tipe pegawai yang punya disiplin tinggi. Sebelum berangkat dia selalu menyiapkan segala sesuatunya dengan baik. Pakaian seragam, jaket, sepatu dan perlengkapan lainnya semua selalu dicek satu persatu. Motor yang dikendarainya juga tak pernah lupa dicek. Dia tidak ingin ada kendala sekecil apapun ketika melaksanakan tugas.

Meski tempat tinggalnya berjarak sekitar 30 km dari kantor, Agus hampir tidak pernah terlambat datang. Seingatnya, baru sekali dia terlambat. Itu pun disebabkan sesuatu hal yang berada di luar kemampuannya, ban motor yang ditumpanginya bocor terkena ranjau paku di jalan. Dia harus menuntun sendiri motornya kira-kira setengah kilometer ke tukang tambal ban terdekat.

Beberapa ruas jalan di Jakarta memang terkenal dengan jebakan ranjau paku. Anehnya, di setiap penghujung jalan tersebut selalu terdapat satu atau dua tukang tambal ban yang “siap” membantu menambal ban bocor.

Meski setiap hari dibersihkan oleh para petugas kebersihan, hampir setiap hari pula ditemui pengendara motor yang menjadi korban paku jalanan tersebut.

***

Dulu, ketika masih belum punya anak, gaji sebagai pegawai kontrak masih dirasa cukup untuk membiayai hidup berdua dengan istri, meski juga harus mengirit. Apalagi saat itu Masita juga bekerja di sebuah mini market.

Setelah Hanum, anaknya yang kedua lahir, Masita keluar dari pekerjaan dan memutuskan untuk sepenuhnya menjaga anak-anaknya di rumah. Satu-satunya penghasilan yang diandalkan adalah gaji Agus yang diterima setiap awal bulan.

Dengan penghasilan sekitar 3 juta rupiah per bulan, sesuai dengan ketentuan upah minimum provinsi, Agus sering merasa pusing dengan biaya hidup yang terus merangkak naik.

Sebagai istri, Masita juga sering merasakan kepusingan serupa. Apalagi anaknya yang  pertama, Ismail, sudah menginjak 5 tahun dan sudah saatnya masuk TK. TK termurah yang paling dekat dengan rumah biaya masuknya sekitar 3 juta rupiah. Itu artinya sama dengan gaji Agus sebulan. Sementara uang bulanannya 200 ribu rupiah. Belum termasuk uang jajan dan lain-lainnya.

Adiknya, Hanum, saat ini juga sudah berumur 4 tahun. Tahun depan juga akan menyusul kakaknya masuk TK.

Belum lagi kalau harus memikir biaya rutin yang harus dikeluarkan setiap bulan. Untuk sewa rumah 500 ribu per bulan, arisan pengajian ibu-ibu 20 ribu rupiah per minggu dan pengajian bapak-bapak 25 ribu rupiah. Selain itu untuk dana sosial 10 ribu, ronda 50 ribu dan sampah 15 ribu per bulan. Biaya makan minum dan biaya sosial lain seperti undangan, sumbangan kematian atau tetangga yang sakit belum dihitung.

Meskipun masih muda, tapi keluarga Agus-Masita sudah dihitung sebagai sebuah keluarga sendiri. Mereka sudah terkena berbagai iuran wajib yang harus ditanggung oleh sebuah keluarga yang tinggal di sebuah kampung.

***

 “Terus sekarang mau kerja apa ?” tanya istrinya lagi.

“Mau nyoba Gojek atau Grabbike,” Agus menyebut dua perusahaan ojek berbasis aplikasi yang sekarang sedang ngehits  di kota-kota besar.

Beberapa teman Agus memang ada yang sudah beralih profesi menjadi tukang ojek online tersebut. Kelihatannya lumayan penghasilannya. Pekerjaannya juga lebih santai dan jam kerjanya bisa diatur sendiri.

“Mas, bukannya aku tidak setuju. Tapi coba pikirkan kembali rencana itu. Siapa tahu nanti ada perkembangan baik. Coba tunggu satu tahun lagi!” Masita masih meminta suaminya bersabar.

“Ok deh Mah. Aku coba bertahan setahun lagi. Jika belum ada perubahan, kita harus berani banting setir. Terus terang, sebenarnya aku juga sangat berat jika harus meninggalkan pekerjaan sebagai tukang pos. Aku sangat mencintai perusahaan ini. Mudah-mudahan Tuhan memberikan yang terbaik buat kita,” cita-cita dan harapan Agus untuk bisa menjadi pegawai tetap Pos Indonesia sebenarnya tak pernah surut dan padam.

***

Angin sejuk dan segar berhembus di perusahaan Pos Indonesia sepanjang tahun 2016 ini. Direksi baru terlihat bekerja keras dan sungguh-sungguh membenahi manajemen perusahaan.

Perbaikan mulai terlihat disana-sini. Kantor pos yang selama ini terkesan kumuh, terus ditata agar menjadi tempat kerja yang indah dan nyaman bagi para pegawai dan pelanggan yang datang.

Sisi operasi juga terus dibenahi agar layanan pos dapat memenuhi dan memuaskan kebutuhan para pelanggannya. Di hampir semua kantor pos, jumlah kiriman yang dikelola terus meningkat. Kepercayaan para pelanggan pada perusahaan juga semakin membaik.

Angin segar itu juga bertiup pada lebih dari 5.500 pegawai yang selama ini berstatus sebagai pegawai kontrak. Mereka resmi diangkat sebagai pegawai tetap perusahaan.

Pada tengah malam awal Ramadhan 2016 ini, di sebuah sudut kamarnya yang sempit,  Agus dan Masita menumpahkan rasa syukurnya di atas sajadah kecil. Air mata kebahagiaan tak henti-hentinya menetes dari mata pasangan suami istri ini. Mereka bersyukur bahwa nama Agus terselip di antara ribuan pegawai yang diangkat tersebut.

Asanya yang tak pernah putus kini telah terbayar. Tidak ada kebahagiaan lain yang lebih tinggi bagi seorang pegawai kontrak seperti Agus yang melebihi kebahagiannya diangkat menjadi pegawai tetap.

Esok hari setelah menerima surat pengangkatan, terlihat pemandangan yang sangat indah di depan rumah kontrakan mereka. Agus terlihat mengecup kening istrinya, setelah itu dia terlihat bergegas menuju kantor dengan wajah semringah tak biasa.

Sambil menghidupkan mesin motornya, Agus juga terus memperbaharui janji dan tekadnya bahwa dia akan selalu memberikan pengabdian terbaiknya untuk perusahaan tercinta.

Bandung, 03 Agustus 2016

*Cerpen ini masuk dalam 13 cerpen terpilih untuk Kantor Pusat Pos Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: