Tiga Tahun di Palembang, Kenangan Tak Terlupakan

Berat hati pergi ke Palembang

Saya adalah karyawan sebuah BUMN yang diikat dengan sebuah kontrak kerja bahwa saya sanggup ditempatkan dimana saja di seluruh wilayah Indonesia. Pada tahun 2001 saya menerima surat keputusan (SK) pindah tugas ke Palembang. Ketika pertama kali mendengar berita kepindahan tersebut, terus terang saya kaget dan agak berat menerimanya.

Saya merasa agak berat menerimanya karena selama ini cerita yang saya dengar tentang Palembang lebih banyak sisi negatifnya daripada positifnya. Tentang orang-orangnya yang keras, temperamental dan hanya mau menang sendiri, banyaknya premanisme dan keadaan kota yang kurang aman, fasilitas air, listrik dan jalan yang jelek serta berbagai cerita buruk lainnya.

Tetapi bagaimana pun SK telah saya terima, mau tidak mau saya harus berangkat menjalaninya. Akhirnya, dengan mengucap bismillah saya berangkat dan memboyong semua anak dan istri saya ke Bumi Sriwijaya.

Rumah dinas di Sekip Tengah Palembang (Repro foto lama)

Di Palembang, saya mendapat jatah sebuah rumah dinas kecil di daerah Sekip Tengah. Rumah dinas itu adalah sebuah rumah tua beratapkan seng, separuh dindingnya terbuat dari kayu dan sebagian tiangnya telah keropos. Sejak dibangun, rumah tersebut kelihatannya belum pernah direnovasi, hanya bagian lantainya saja yang sudah diganti dengan keramik putih.

Soal keadaan rumah tidak menjadi masalah, yang agak menjadi masalah bagi saya sekeluarga adalah air. Air PDAM memang mengalir, tetapi dalam sehari hanya mengucur 1 kali selama satu jam, itu pun harus disedot dengan pompa air listrik. Jika kita ingin bepergian, maka semua bak penampung air harus sudah diisi dulu, kalau tidak maka pada hari itu kita tidak akan mendapat jatah air.

Belakangan saya baru tahu, keadaan seperti itu juga terjadi di beberapa tempat di Palembang. Alhamdulillah, saya sekeluarga bisa berdamai dengan masalah yang satu ini.

Pesona Palembang

Cerita tentang Palembang sebagai kota yang seram ternyata banyak salahnya. Berkebalikan dengan gambaran itu, Palembang ternyata menyimpan sejuta pesona.

Saya tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk beradaptasi. Di kampung tempat saya tinggal, warga setempat sangat welcome terhadap para pendatang. Saya bisa langsung bergabung dalam forum-forum seperti pengajian, kerja bakti, rapat RT atau hajatan warga lainnya. Saya sekeluarga sangat menikmati tinggal di kota yang dijuluki sebagai  Venice of the East, Venesia dari Timur, ini.

Saat-saat paling indah yang paling saya rasakan selama tinggal di Palembang adalah ketika bulan Ramadhan dan Idul Fitri tiba. Selama bulan Ramadhan, setiap sore di beberapa tempat digelar pasar kaget yang banyak menjual makanan khas yang hanya ada di bulan puasa.

Berpose di depan Masjid Agung Palembang (Repro foto lama)

Mereka yang ingin khusyu’ berlama-lama mengkhatamkan bacaan Alqur’an 30 juz dalam shalat tarawih selama 1 bulan, bisa melaksanakannya di Masjid Agung Palembang yang legendaris itu. Imamnya seorang hafiz, penghafal Alquran, yang suaranya sangat fasih dan merdu.

Pada saat Idul Fitri tiba, kita bisa merasakan betul kehangatan wong kito menyambut dan melayani para tamu yang datang ke rumah mereka. Segala macam kuliner eksotis dan sangat memanjakan lidah akan dihidangkan kepada tetamu, ada Engkak, Maksuba, Ragit, Kue Delapan Jam, Pindang Patin, Malbi, Pindang Tulang dan tentu saja Pempek.

Termasuk waktu yang juga saya tunggu-tunggu di Palembang adalah ketika musim panen durian dan duku tiba. Durian yang manis dan legit akan berlimpah di sepanjang jalanan Palembang. Harga durian pada waktu seperti itu akan sangat murah dan istimewanya jika ternyata durian yang kita beli tersebut tidak baik kita bisa langsung mengembalikannya. Di kota lain seperti Jakarta, membeli durian seperti membeli kucing dalam karung, sudah harganya sangat mahal, isinya juga untung-untungan dan yang jelas tidak bisa dikembalikan.

Untuk buah duku, saya dan teman-teman kantor tidak pernah membelinya. Beberapa rekan yang berasal dari daerah Komering biasanya rajin membawa berkarung-karung duku yang sangat manis ke kantor.

Kegiatan lain yang banyak saya lakukan selama tinggal di Palembang adalah traveling. Kantor tempat saya bekerja kebetulan adalah kantor divisi regional yang membawahi wilayah Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Jambi, Bengkulu dan Lampung. Karena itu saya punya banyak waktu dan kesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat di seluruh wilayah Sumatera Selatan, ke Lubuk Linggau, Lahat, Baturaja, Prabumulih, Muaraenim, Pagaralam, Kayuagung, Sekayu, bahkan sampai ke daerah transmigrasi di jalur anak Sungai Musi.

Gambar Jembatan Ampera diambil dari perahu ketek (Repro foto lama)

Landmark kota Palembang seperti Jembatan Ampera, Masjid Agung, Menara Air (Kantor Walikota), Monpera (Monumen Perjuangan Rakyat), Museum Sultan Mahmud Badaruddin, Benteng Kuto Besak, Pasar Cinde adalah beberapa bangunan yang sampai saat ini masih tergambar jelas dalam ingatan saya. Hari-hari selama saya tinggal di Palembang, hampir tidak bisa dilepaskan dari tempat-tempat tersebut.

Jalan-jalan ke Pulau Kemaro (Repro foto lama)

Tiga anak gadis saya, yang waktu itu masih kecil, juga sangat menikmati perjalanan menyusuri Sungai Musi dengan perahu ketek. Biasanya kami naik dari bawah Jembatan Ampera lalu turun di Pulau Kemaro dan kemudian balik lagi ke tempat berangkat, di lain waktu ke Jembatan Musi Dua atau kadang-kadang hanya menyeberang  ke Seberang Ulu. Kalau ingat perjalanan dengan ketek itu kadang-kadang saya ngeri juga, jika ketek terbalik, bisa habis riwayat saya sekeluarga di Sungai Musi.

Setelah turun dari ketek biasanya kami langsung menuju ke Pasar 16 Ilir untuk berburu pakaian atau tas bekas eks luar negeri. Ini termasuk perburuan yang seru, kalau lagi beruntung kita bisa mendapatkan jaket atau tas branded yang masih bagus dengan harga sangat miring, bahkan kadang di dalamnya juga ada uang Dollar-nya.

Selalu rindu Palembang 

Pertengahan tahun 2004, ketika saya sekeluarga sedang menikmati asyiknya menjadi warga Palembang, tiba-tiba sebuah SK datang kembali. Kali ini perintahnya adalah saya harus segera meninggalkan Palembang dan pindah tugas ke Jakarta.

Kalau dulu saya merasa berat berangkat ke Palembang, kini perasaan saya justru lebih berat lagi untuk meninggalkannya. Kayaknya saya sudah terlanjur cinta pada Palembang dan wong Palembang.

Sejak kepindahan tahun 2004 itu, saya baru sempat kembali sekali ke Palembang, yaitu pada tahun 2005. Setelah itu hingga hari ini, saya belum punya kesempatan untuk menjejakkan kaki kembali di Palembang.

Terus terang, saya memendam rindu berat pada Palembang. Keadaan Palembang hari ini tentu jauh berbeda dengan keadaan 8 tahun silam, ketika saya meninggalkannya.

Saya dengar selama beberapa tahun terakhir ini Palembang berkembang sangat pesat. Banyak sarana dan prasarana berstandar dunia di bangun dan even-even berskala internasional juga sering digelar di kota Pempek ini.

Kapan ya bisa datang lagi ke Palembang ?

***Alhamdulillah tulisan ini terpilih sebagai pemenang 1 dalam Kompetisi Blog Pesona Sumatera Selatan

Iklan

13 Tanggapan so far »

  1. 1

    mrbedelaje said,

    KEREN…………….
    selamat ya OM udah juara I
    semoga kesuksesan OM BISA NULAR KE ANE
    AMIN AMIN AMIN
    SALAM SUKSES

    ::> mrbedelaje
    Makasih, tetap semangat, masih banyak kesempatan lain….

  2. 2

    fatah27 said,

    Selamaaaat, pak. Juara pertama!!! Kisah bapak jauh berbeda dengan peserta lomba kebanyakan. Terkesan retro, tapi homey banget tentang Palembang. 🙂

    ::> fatah27
    Makasih, saya sekeluarga memang punya kenangan yang mendalam terhadap Palembang, itu yang saya tulis

  3. 3

    luce.rachma said,

    Semoga bisa punya kesempatan untuk datang kembali ke Palembang untuk ngobatin kangen sekalian treveling bersama keluarga. Nanti jgn lupa kirimin saya pempek yaa, pak…abis di Bogor pempeknya aspal. hehehe :p
    Dan congratz atas kemenangannya. Tulisannya memang beneran keren. salam.

    ::> luce.rachma
    Makasih Mbak. Panitia menelpon saya tadi sore. Kemarin kayaknya ada yang nelpon juga, tapi gak masuk, giliran saya call ulang gak bisa nyambung. Kalau tahu kemarin saya berniat pergi ke Palembang. Mudah2an di lain waktu masih ada kesempatan…

  4. 4

    selamat ya pak,
    i like it 🙂

    ::- Muhammad Rizki
    Makasih, sukses untuk kita semua…..

  5. 5

    risa said,

    ada lomba blog lagi nih.. lumayan ….G.tab

    ::> risa
    Lomba Mama Cake itu ya ? Kelihatannya saya kurang menguasai masalah hehe…

  6. 6

    ASRIYATNO said,

    Selamat bos jadi pemenang!…ane juga ngikut kemarin tuh hehehe

    ::> ASRIYATNO
    Terima kasih. Ayo coba terus masih banyak even lain…..

  7. 7

    nana said,

    selamaatt 🙂

    ::> nana
    Makasih….

  8. 8

    kapalkito said,

    waw.. aku salut nian dng tulisan cerito ini, wajar be menang. simple (hanya cerita) tapi penuh makna.. bravo, jng lupo minum cuko be kl kangen palembang pak.. congrat!!

    ::> kapalkito
    Makasih, tapi aku dah lupo galo boso Plembang. Insyallah masih sering minum cuko…

  9. 9

    dora said,

    kerinduan yg dalam terhadap palembang tergambar jelas di tulisan bapak. congratulation untuk kemenangannya. salam kenal 🙂

    ::> dora
    Makasih salam kenal kembali. Mudah2an suatu saat bisa ke Palembang lagi….

  10. 10

    reggaeman said,

    pepatah orang palembang ”setiap perbuatan baik tak perlu kiasan yg indah” itu prinsip org palembang sampai skg,,,wlpun org ny kasar tapi rata2 org ny bae2,,,

    ::> reggaeman
    Sangat setuju….

  11. 11

    waahh terharu saya bacanya..

    terima kasih atas kesannya dengan Palembang dan Wong Palembang..

    memang sebelum tahun 2000an image Palembang sangat negatif..

    tapi sebenarnya org Palembang keras bicaranya tapi lembut hatinya..

    kehidupan kami pun tergolong masih sangat bersahaja..

    klo masalah kriminalitas, bukan hanya di Palembang, di semua kota Indonesia juga pasti ada, mungkin lebih parah yang ada di Jakarta di bandingkan di Palembang…

    terima kasih atas kesan positifnya dengan Palembang..

    semoga bisa berkunjung ke sini lagi (Palembang).. amiinn

    salam kenal..

    silahkan berkunjung ke blog saya >> http://www.adrian10fajri.wordpress.com (Pesona Palembang)

    ::> adrian10fajri
    Makasih bang atas kunjungannya, segera meluncur ke TKP

  12. 12

    deri said,

    palembang sudah banyak berubah, rumah dinas di sekip di mananya pak?

    ::> deri
    Lorong PTT di simpang tiga ke Rambang…

  13. 13

    Agee Fonzi said,

    keren pak tulisannya… Salam dari orang lahat pak.. come back here soon and enjoy palembang again sir 😀

    Om Agee Fonzi
    Thx bersedia membaca dan memberi respon…


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: