Mungkinkah Hukum Merokok Kretek Menjadi Wajib ?

Perdebatan Hukum Rokok

Hukum rokok, termasuk rokok kretek, dalam pandangan agama (baca Islam) masih menjadi perdebatan  panas di kalangan ulama. Sebagian ada yang mengharamkan secara mutlak, sebagian lagi ada yang menghukumi makruh.

Bagi kalangan yang menganggap rokok sebagai barang haram, madharat (bahaya) yang ditimbulkan rokok dinilai lebih besar daripada manfaat yang didapatkan, terutama menyangkut kesehatan pribadi si perokok dan juga bagi perokok pasif di sekitarnya. Secara ekonomi, gaya hidup perokok juga dinilai menimbulkan  ekonomi biaya tinggi (israf) dan mubazir.

Bagi sebagian yang lain, hukum rokok paling jauh adalah makruh, artinya ditinggalkan berpahala, dikerjakan tidak berdosa. Kalangan ini berpendapat manfaat rokok tidak bisa disepelekan begitu saja, terutama jika dikaitkan dengan manfaat sosial ekonomi yang menyangkut kehidupan  petani tembakau, pedagang, industri rokok  dan sektor-sektor lain yang berhubungan dengan itu, juga kaitannya dengan pajak dan cukai yang diterima negara.

Kalangan ini juga menolak analogi diharamkannya minuman keras (khamr) dengan rokok. Alasan hukum (‘illat) haramnya minuman keras bukan karena besarnya madharat, melainkan karena sifatnya yang memabukkan (muskir). Di samping itu, minuman keras juga dikategorikan sebagai barang najis,  sedangkan rokok tidak.

Merokok Wajib ?

Di luar pandangan tersebut, seorang ustadz sepuh dan cukup disegani di kampung saya mempunyai sudut pandang lain yang cukup unik terhadap masalah rokok ini. Bagi beliau, hukum merokok tidak akan pernah jatuh sampai pada hukum haram, makruh pun tidak.

Hukum rokok menurut beliau asalnya adalah mubah, boleh. Bahkan bagi individu-individu tertentu, hukumnya bisa berubah menjadi wajib. Beliau  menyebutnya dengan istilah wajib fardiyyah, wajib hanya untuk individu-individu tertentu saja.

Beliau mempunyai landasan yang kuat untuk sampai pada kesimpulan seperti itu. Dasar yang digunakan adalah kaidah Ushul Fiqh yang biasa dipakai oleh kalangan ulama dan pesantren ketika membedah dan menetapkan hukum terhadap suatu masalah. Kaidah tersebut berbunyi “maalaa yatimmul waajib illaa bihii fahuwa waajib”, jika suatu kewajiban hanya bisa disempurnakan dengan bantuan atau sarana lain, maka bantuan atau sarana tersebut menjadi wajib hukumnya.

Dalam soal ibadah beliau mencontohkan, untuk dapat menunaikan shalat dengan sempurna, orang  akan membutuhkan pakaian untuk menutup aurat. Dalam hal ini, mengusahakan adanya pakaian untuk menutup aurat menjadi wajib hukumnya bagi orang yang ingin menyempurnakan shalatnya.

Demikian juga ketika seorang ingin menunaikan zakat atau haji. Kedua kewajiban tersebut tidak akan dapat tertegak, kecuali jika orang tersebut mempunyai kelebihan uang untuk dizakatkan atau untuk biaya perjalanan ibadah haji. Dalam hal ini, mencari uang untuk menegakkan kedua kewajiban tersebut juga menjadi wajib. Masih banyak contoh yang lainnya.

Dalam soal rokok, secara spesifik beliau membuat beberapa contoh. Menuntut ilmu, dalam pandangan agama, hukumnya adalah wajib. Sebuah hadits dari Nabi Muhammad SAW berbunyi, “thalabul ilmi faridhatun ala kulli muslimin wa muslimatin”, mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim dan muslimah. Untuk dapat menangkap pelajaran dengan baik, seorang santri atau pelajar tentu membutuhkan  tingkat konsentrasi yang tinggi. Jika hal tersebut hanya bisa dilakukan dengan bantuan sebatang rokok, maka bagi si santri atau pelajar tersebut, hukum rokok menjadi wajib fardiyyah.

Demikian juga ketika seorang kyai menelaah atau menulis kitab-kitab untuk bahan pelajaran para santri. Sang kyai ternyata hanya dapat berkonsentarsi dan mendapatkan ide setelah menghisap sebatang  rokok. Maka bagi kyai tersebut, hukum rokok  juga bisa menjadi wajib fardiyyah.

Cara pandang semacam ini tentu akan memancing perdebatan, terutama dari mereka-mereka yang tidak setuju dan bersikukuh bahwa hukum merokok kretek adalah mutlak haram. Bagi mereka, pintu hukum rokok sudah tertutup dan tidak bisa ditawar lagi.

Terus bagaimana solusinya ? Menurut saya, cara terbaik dalam masalah ini adalah menyerahkan hukum rokok ini kepada masing-masing individu. Terserah apakah dia akan meyakini bahwa rokok itu berhukum haram, makruh, mubah, sunat, atau bahkan wajib (fardiyyah). Yang lebih penting adalah bagaimana masing-masing bisa saling menghargai dan menghormati satu sama lain.

Di samping itu, ada baiknya juga jika dibuat kesepakatan bahwa masing-masing pihak tidak boleh saling mengganggu. Yang merokok, silahkan jalan terus, tetapi tetap harus disertai  kesadaran bahwa di luar mereka, juga terdapat banyak orang yang tidak suka “diganggu” asap rokok. Gampang kan ?

*) alhamdulillah tulisan ini terpilih dalam 10 tulisan terbaik dalam lombaBlogger menulis Rokok

Iklan

2 Tanggapan so far »

  1. 1

    Setuju sama kalimat penutupnya,
    yang ngerokok ngak mau di ganggu/dilarang … jadi harus adil yang tidak merokok juga tidak boleh di ganggu dengan asapnya 🙂

    ::> Solusi SoalCINTA
    Harus take and give ya …?

  2. 2

    maszen said,

    selamat ya atas terpilihnya tulisan ini sebagai 10 besar blogger nulis kretek

    ::> maszen
    Makasih Mas Zen, ya lagi belajar nulis. alhamdulillah satu tulisan lain juga masuk :https://aljohan.wordpress.com/2011/04/17/rokok-dan-kehidupan-petani-tembakau/
    Salam kenal


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: