10/10/10, 10/10/10

Time is money”, waktu adalah uang

Alwaqtu kas saifi”, waktu adalah seperti sebilah pedang

Urip ing dunyo  iki mung mampir ngombe”, hidup di dunia ini hanya sekedar menumpang  minum

Pada bulan Oktober 2010 ini ada satu saat yang sangat istimewa yaitu tanggal 10 bulan 10 tahun 10 jam 10 lebih 10 menit 10 detik. Saya ingin menuliskan detik yang hanya terjadi setiap seratus tahun ini – dengan abad dan generasi yang berbeda – dengan angka seperti judul tulisan di atas.

Bagi banyak orang angka tersebut adalah biasa-biasa saja dan tidak ada istimewanya, apalagi jika dikaitkan dengan beratnya problematika kehidupan sehari-hari, “Nggak ngaruh”, kata  tetangga saya di Depok.

Tetapi bagi sementara orang, angka tersebut adalah angka yang istimewa, maka tak ada salahnya memilih angka  itu untuk merayakan momen atau peristiwa istimewa dalam hidupnya.

Di rumah sakit, konon banyak ibu hamil meminta pihak rumah sakit untuk melakukan operasi cesar  agar bayinya bisa  lahir pada hari itu. Alya Rohali, bersama 20 ibu lainnya, termasuk orang yang memilih tanggal itu untuk kelahiran buah hatinya di Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta.

Alya Rohali dan bayinya (Gambar : JPNN)

Yang tak kalah serunya adalah banyaknya pasangan penganten yang memilih angka itu sebagai tanggal pernikahan. Pernikahan adalah momen yang sangat istimewa dalam kehidupan setiap orang dan diharapkan hanya terjadi sekali dalam hidupnya. Indra Bekti dan pasangannya, Adilla Jelita, termasuk pasangan yang memilih tanggal itu sebagai hari pernikahannya.

Pasangan Indra Bekti & Adilla jelita (Gambar:  Kompas)

Pernikahan adalah contoh paling nyata bagaimana sebuah keragaman dapat disatukan dalam sebuah unit yang namanya keluarga. Kedua sejoli datang dari latar belakang yang berbeda ; lelaki-perempuan,  asal muasal, adat istiadat dan lain sebagainya. Keberhasilan pasangan penganten membentuk sebuah mahligai keluarga terletak pada kesanggupan setiap pasangan  untuk saling berkorban, memberi, menghormati dan bertenggangrasa satu sama lain. Tanpa itu semua, yang namanya keluarga bahagia hanya akan menjadi cerita saja.

Ketika  saya keluar dari gang rumah saya di Depok menuju stasiun kereta Depok Baru, saya berpapasan dengan lebih dari 5 iring-iringan kendaraan pernikahan sehingga beberapa ruas jalan menjadi macet.

Tetangga saya, seorang petugas KUA (Kantor Urusan Agama) bercerita bahwa pada hari itu  ia punya tugas untuk mengijabkabulkan 8 pasangan di wilayah kerjanya.

***

Pada hari itu saya pergi ke Jakarta untuk menghadiri sebuah acara yang digagas oleh sebuah komunitas yang sangat menghargai setiap momen dan tanggal-tanggal istimewa, yaitu komunitas penggemar Filateli yang tergabung dalam Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI). Tempatnya di Kantor Filateli Jakarta (KFJ), di kawasan Pasar Baru Jakarta Pusat.

Pada setiap momen atau tanggal yang dipandang istimewa, selalu ada penerbitan Prangko atau minimal Sampul Peringatan berkaitan dengan momen atau tanggal tersebut. Untuk tahun ini, tanggal tersebut diperingati dengan menerbitkan Sampul Peringatan tanggal 10 bulan 10 tahun 10. Tahun 2009 lalu 09/09/09, tahun sebelumnya 08/08/08, begitu seterusnya.

Selain penerbitan sampul peringatan, pada tahun ini komunitas penggemar Filateli menggandeng beberapa komunitas lain untuk melakukan kerja bareng.  Mereka mengemasnya menjadi sebuah acara yang diberi tajuk “Persahabatan Kantor Filateli Jakarta & Komunitas.”  Komunitas yang hadir selain PFI adalah ; Wayangkom, Love Our Heritage, Burung Indonesia, Komunitas Jelajah Budaya, Ikatan Motor Pos Indonesia (IMPI), Trem Kota, SOS Children’s Villages, Asosiasi Numismatika Jakarta, Bobo dan Komunitas Ontel Batavia.

Acaranya sendiri berlangsung sangat sederhana, yaitu penandatanganan dan kesepakatan kerja sama antar berbagai komunitas dan kemudian dilanjutkan dengan pameran bersama yang berlangsung tanggal 10 – 17 Oktober 2010.

Mungkin belum banyak hasil yang bisa diharapkan dari even ini. Tetapi sebagai langkah awal, menurut saya, sudah cukup baik. Paling tidak ada kesadaran dari masing-masing komunitas untuk selalu bersinergi dengan komunitas lain ; hobi, etnis, agama dan lain-lain. Di masa yang akan datang, tentu harus dijalin kerjasama yang lebih serius lagi, agar manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat luas.

Setiap kita tidak bisa hidup sendirian di dunia ini, maka setiap detik yang kita punya harus kita manfaatkan untuk kebaikan diri dan untuk sesama. Jika tidak, kita akan kehilangan begitu banyak momen penting dalam hidup kita

Itulah salah pelajaran penting yang mungkin bisa kita ambil dari momen jam 10 lebih 10 menit 10 detik tanggal 10 bulan 10 tahun 10 ini.

Mudah-mudahan kita bisa memaknainya !

Iklan

1 Response so far »

  1. 1

    wendy achmad said,

    Hahaha … ternyata ada sesi pernikahannya … betul betul … kita harus beragam karena kita dengan istri (calon) pasti akan berbeda … biar rukun …

    ::> wendy achmad
    Kadang-kadang kita melihat keragaman hanya dalam konteks yang sangat luas, padahal dalam diri kita dan rumah tangga kita pun sebenarnya penuh dengan keragaman…ya


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: